• Taman Nasional Komodo
  • Taman laut Maumere
  • Tradisi Pasola Sumba
  • Danau Tiga Warna Kelimutu
  • Tradisi Perburuan Ikan Paus di Desa Lamalera
×

Warning

Failed loading XML file

Reba, Rancangan Bangun Mosaki Manusia NTT dan Aset Pemerintah

Published: Monday, 23 February 2015

SILI Ana Wunga, nuka pera gua. Uwi tebu took ladu wai poso, koba rako lizu lobo soy dewa. ( Sili orang pertama yang mengajarkan adat perayaan Reba. Ubi tumbuh dan menjalar pada taing kayu dan terus merambat sampai ke langit/ Tuhan). Inilah tutur adat Ngadha, yang mengawali seluruh rangkaian peseta adat Reba dirayakan masyarakat Ngadha yang ada di kupang sabtu (21/2) di GOR Flobamora Kupang. Tutur adat tersebut di lanjutkan dengan Sa Ngaza (Maklumat yang berisi sejumlah kalimat- kalimat adat) yang dilantangkan oleh Geradus Gere Mangu. Dan seiring berakhirnya Sa Ngaza, serentak music yang mengiringi koor berbunyi. Bersamaan dengannya, masuk enam belas pasngan penari dengan busana adat lengkap yang dipimpin Rino Nawa. Gerakan serasi penuh gemulai yang dipertontonkan para penari, membuat seluruh undangan kagum sembari berdiri untuk menyambut Pastor Dr Hubertus Muda SVD dan Pastor Han Riberio OCD, yang memimpin Misa Inkulturatif.

Dalam Kotbahnya, Pater Hubert, mengatakan, pesta adat Reba merupakan perayaan syukur kepada Tuhan yang kenal sebagai “ Dewa Zeta Nitu Zale”. Pujian yang Nampak dalam teriakan “ O uwi e” pada dasarnya adalah permohonan orang Ngadha akan kesejateraan, kedamaian, kecukupan, kelimpahan. Triakan “O uwi” itu bermakna sebagai kebutuhan manusia akan keselamatan “hic et nunc” atau keselamatan yang dekat bukan keselamatan yang jauh. Teriakan bersama-sama itu merupakan ritus keagamaan agar terjadi inkarnasi atau hadirinya kembali keselamatan primoridial bagi seluruh komunitas orang Ngadha.

Dengan demikian ritus Reba merupakan saat menghadirkan kembali benih-benih inkarnatif keselamatan primordial yang didambakan semua orang Ngadha. Pesta Reba yang dirayakan di Kupang lanjut Piter Hubert, tidak bermaksud untuk membangun Ngadaisme, melainkan merancang suatu keragaman dalam kebersamaan. Reba sebagai rancangan bangun manusia – manusia NTT, sebagai mosaik untuk membangun keutuhan nusantara. “Ngadha saat ini tidak lagi tertutup seperti masa lampau. Dan Reba itu sendiri adalah subah teks budaya. Dan budaya Ngadha tidak hanya pandangan hidup yang juga mempengaruhi gaya hidup di diaspora. Dalam perayaan Reba ini, kita dapat menemukan secara kasat mata rancang bangun religiositas oarng Ngadha, rancang bangun relasi manusia dengan Tuhan, dengan sesame manusia dan dengan lingkingan hidupnya,” ungkapnya. 

Sementara itu, wakil wali kota, Herman Man dalam sambutan mewakili Wali Kota Jonas Salean, mengatakan , perayaan pesta Reba merupakan peristiwa budaya yang perlu di lestarikan. Pesta Reba adalah asset Pemerintah Kota Kupang. Pasalnya , peristiwa budaya yang dirayakan itu mempunyai konteks yang sejalan dengan visi misi Pemerintah Kota Kupang , yakni membangun kota kupang menjadi kota Pariwisata. “Masyarakat Kota Kupang berasal dari berbagai etnis, seperti Rote, Sabu, Sumba, Flores, Timor, dan Alor. Kelompok etnis ini diberikan kesempatan yang sama untuk ritus-ritus budaya. Ritus budaya termasuk Reba yang kita rayakan sekarang adalah asset Pemerintah Kota Kupang. Untuk itu saya mengajak warga Ngadha yang ada di Kupang untuk bersama-sama membangun kota kupang dalam keberbagaian, “ ungakapnya.

Terpisah, sesepuh Ngadha, Nicolaus Nono Ago, yang dikonfirmasi di sela-sela acara, mengatakan, Reba adalah peristiwa syukuran, tak hanya syukur atas keberhasilan , tetapi juga syukur atas kegagalan yang diterima masyarakat Ngadha selama satu tahun. Sebagai ekspresi rasa syukur , Reba adalah pelaksanaan dari agama, realisasi dari iman. Dengannya Gereja Katolik mengijinkan adanya inkulturasi di dalam perayaan Ekaristi. Reba , lanjut Nico, sebenarnya hanya bias dilakukan di rumah adat (Sa’o). Dan Reba yang dirayakan diluar Sa’o , seperti di kebun, termasuk yang dirayakan masyarakat Ngadha di Kupang, merupakan Reba Diaspora’. “Meskipun kita hanya menjalani ritual biasa, namun Reba Diaspora tidak menghilangkan makna pesta Reba yang sesungguhnya. Kita mencari makan di mana saja, kita harus bersyukur. Kita merefleksikan hidup yang kita jalani selama setahun berlalu. Dalam Reba, tidak ada silang sengketa, terjadi pelunasan hutang pihutang. Bagi pemuda/i lajang , Reba adalah ajang mencari jodoh, karena pada saat itu banyak pemuda/i yang terlihat ganteng dan cantik dengan berbalut pakaian adat , “ ungkapnya.

Terpantau, perayaan pesta Reba berlangsung meriah dan di hadiri sejumlah tokoh masyarakat Ngadha, seperti Stephanus Djawanai yang juga Rektor Uniflor, frans Wogha selaku staf ahli Bupat Ngadha, mantan bupati Ngadha, Niko Dopo, Viany Djone, Gerardus Reo, dan lainnya. Usai Misa Inkultruratif dan sambutan –sambutan, semua masyarakat etnis Ngadha dan tamu undangan yang hadir dijami untuk makan bersama, yang oleh orang Ngadha disebut dengan ‘ Meghe Maki Sui Reba’. Usai makan bersama, dilanjutkan dengan tarian “O uwi “ , sebuah tanda bersama dalam bentuk lingkaran. Tarian “O uwi” dalam bentuk lingkatan di tengah kampung ini (kisa nata) biasanya diawali dengan teriakan “wuku uwi atau pujian kepada ubi”. Maklum “ Uwi / ubi,” diyakni sebagai roti kehidupan manusia pada masa in illo temporenya orang Ngadha. (***/boy)

Poskup-Senin, 23 Februari 2015

Hits: 1079

Jajak Pendapat

Bagaimana website ini?

Menarik - 60.8%
Biasa saja - 15.8%
Buruk - 11.4%

Total votes: 158
The voting for this poll has ended on: December 31, 2014

Statistik web

Today831
Yesterday931
This week2600
This month16138
Total1201490
Wednesday, 21 November 2018

Informasi Cuaca

Kupang